Mantap sekali lebaran idul fitri kali ini. Banyak perubahan yang cukup signifikan terutama dalam hal silaturahmi. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang yang membatasi aktifitas masyarakat. Sedikit cerita, tahun 2019 ke belakang, aktivitas saya begitu padat kala idul fitri dengan pola yang secara alami terbentuk. Setidaknya, butuh sekitar tiga sampai empat hari waktu yang harus diluangkan untuk bersilaturahmi mengunjungi tetangga, handai taulan, kawan dan saudara sepupu.


Dulu, di hari pertama lebaran, saya dan keluarga biasa bersama-sama untuk menunaikan sholat ied di pagi hari. Seusai sholat, acara dilanjutkan dengan ritual maaf memaafkan antara saya dengan orang tua dan adik saya sebelum kami menyantap ketupat sayur di rumah. Setelahnya, baru lah kami membuka pintu untuk berkunjung ke rumah nenek yang mana letaknya di depan rumah kami. Kami berkumpul sejenak dan sedikit berbincang untuk update informasi dengan paman dan nenek. Cukup sejenak saja karena kami tahu, nenek adalah salah satu orang yang dituakan di lingkungan sekitar sehingga para tetangga akan datang silih berganti ke rumah nenek.


Seumpama ada tetangga yang enggan untuk berkeliling untuk menyambangi tiap rumah di sekitaran jalan winong, mereka cukup singgah di rumah nenek saya. Kemudian, duduk sejenak, membuka toples yang berisi kue lebaran dan mengambil air mineral kemasan. Sedikit berbasa-basi, ya cukup sedikit saja, misalnya seperti membahas cuaca pada saat lebaran karena obrolan yang panjang dan mendalam tidak akan mungkin dilakukan mengingat tamu akan hilir mudik menyambangi rumah nenek saya. Dengan begitu, mereka tak perlu lagi mendatangi para tetangga dari rumah ke rumah.


Rumah nenek saya juga merupakan salah satu target bagi anak-anak yang ingin meminta THR atau kami biasanya menyebut "persenan". Salah satu bagian menarik adalah ketika saya dikelilingi oleh para anak ke kecil yang mengantri karena biasanya, saya bertugas untuk memberikan persenan tersebut ke anak-anak sambil sedikit menjahili mereka. Sekitar pukul sepuluh atau sebelas siang, biasanya keramaian di rumah nenek saya mulai menurun. Jika sudah dirasa sudah tak ada tamu, saya dan keluarga saya kembali ke rumah untuk beristirahat sebelum melanjutkan petualangan untuk bersilaturahmi. Oia, rumah nenek ini maksudnya adalah nenek dari sisi ibu atau ibunya ibu saya.


Setelah istirahat cukup dan makan siang sudah disantap, kami berkunjung ke keluarga bapak yang letaknya sekitar 30 menit dari rumah. Tapi sebelum bertamu, keluarga kami biasa berziarah dulu ke makam nenek dan kakek saya atau orang tua dari bapak saya. Setelah ziarah, baru lah kami mendatangi paman dan bibi atau saudara kandung dari bapak satu persatu untuk bersilaturahmi. Saya dan keluarga biasa memanggil paman dan bibi dengan sebutan encang dan encing. Panggilan encang ditujukan untuk paman dan bibi yang merupakan kakak dari orang tua saya. Sementara encing ditujukan untuk paman atau bibi yang merupakan adik dari orang tua saya. Mungkin terminologi encang dan encing punya definisi lain di keluarga betawi yang lain.


Kunjungan ini biasanya menghabiskan waktu hingga malam karena nenek dari keluarga bapak mempunyai anak lebih dari 10 yang mana sampai sekarang saya suka lupa berapa jumlah sebenarnya.


Hari kedua, giliran encang dan encing dari keluarga bapak saya berkunjung. Biasanya mereka berkunjung di pagi dan siang hari. Tentu saja acaranya adalah ngobrol-ngobrol dan makan-makan lagi. Tapi masih saja seru. Jika mungkin di hari pertama kami tidak bertemu dari salah satu anggota keluarga mereka, acara hari kedua adalah kesempatan lain untuk bertemu.


Setelah keluarga dari bapak saya sudah pulang, di sore hari, giliran keluarga besar dari ibu saya yang berkunjung ke rumah nenek saya, yang mana, seperti yang sudah saya jelaskan, rumah nenek saya berada di depan rumah saya. Nah, hari itu merupakan ajang berkumpul sekaligus bagi-bagi persenan untuk bocah-bocah. Acara ini biasanya berlangsung hingga malam. Ada tradisi yang sangat digandrungi anak-anak di hari kedua yaitu aktivitas bagi-bagi THR atau kami biasa menyebutnya "baris". Jadi, bagi orang yang sudah bekerja, biasanya mereka anak menyiapkan segepok uang pecahan kecil untuk dibagi-bagi ke anak anak. Nantinya kursi akan dijejerkan panjang yang mana kursi itu diperuntukan bagi pemberi THR. Jika sudah ada orang yang teriak "baris" maka anak-anak langsung sigap menyambangi pemberi THR dan dalam sekejap, barisan panjang sudah terbentuk. Sebagai informasi. Jika dihitung-hitung, mungkin keluarga besar dari ibu sudah lebih dari 100 anggota keluarga. Jadi acara ini berlangsung begitu ramai.


Hari ketiga, biasanya keluarga besar ibu saya berkumpul lagi untuk berziarah dan mengunjungi adik atau kakak dari nenek saya. Aktivitas silaturahmi ini juga memakan waktu hingga malam. Nah, untuk hari keempat, keluarga saya biasanya full time berada di rumah untuk menyambut tamu lain yang akan datang. Mungkin saja, teman saya, teman orang tua saya, relasi orang tua saya, atau keluarga lain yang belum ditemui pada hari pertama sampai ketiga.


Seperti itu singkatnya aktivitas saya saat hari raya lebaran ketika sebelum pandemi dan sebelum nenek saya meninggal. Sedangkan, untuk lebaran 2021, saya mengalami pola yang berbeda dan jadwalnya cukup berantakan. Pada tahun 2020, ketika masa awal-awal pandemi, tidak ada perayaan lebaran. Saya hanya berada di rumah dan berziarah sebentar tanpa mengunjungi sanak saudara. Pun, sanak saudara disarankan untuk tidak datang ke tempat kami. Mungkin karena agak gap seperti itu sehingga pola yang tadinya terbentuk seolah berubah.


Tahun ini, 2021, aktivitas silaturahmi sudah kembali seperti sedia kala. kegiatan silaturahmi sudah cukup ramai. Sayangnya, pola yang terbentuk selama puluhan tahun itu berubah. Jadwalnya agak sedikit kacau di hari kedua karena area kumpul-kumpul sudah berpindah dari rumah nenek, ke rumah encang yang paling tua. Ada koordinasi yang kurang tepat sehingga keluarga kami tidak berkumpul di waktu yang sama dengan sanak saudara yang lain. Terlebih, rumah kami dibanjiri oleh para tamu yang seperti tidak ada habisnya selama tiga hari berturut-turut. Sebetulnya saya sangat senang dengan keramaian, tapi sisi diri saya yang lain seperti enggan untuk bertemu banyak orang. Jadilah selama rumah kami dibanjiri oleh para tamu, saya hanya bersembunyi di dalam dapur untuk memotong buah. Kemudian, tingkat inisiatif saya menjadi sangat tinggi ketika ada sesuatu yang harus dikerjakan di dapur. Jadi saya mempunyai alasan untuk tidak bersosialisasi. Bukan tidak mau menemui sanak saudara atau relasi orang tua. Hanya sedang tak ingin bersosialisasi saja, tak ada energi, dan belum punya kisah baru lagi. 


Saya jadi ingat permainan Fruit Ninja di permainan telepon genggam ketika saya sedang berada di dapur. Tapi kali ini saya tidak memainkan permainan itu, saya betul-betul memotong buah untuk dijadikan soup buah yang akan dihidangkan untuk para tamu. Agaknya kemampuan saya memotong semakin terasa meskipun racikan soup buah saya tidak terlalu bagus. Mungkin, bagian yang menyulitkan adalah ketika mendapatkan buah yang masih muda dan pisaunya sudah sedikit tumpul. Perlu sedikit usaha agar buah itu terpotong lurus sempurna. Selain itu, saya pun menyadari bahwa terlalu lama memotong buah dapat membuat leher terasa kaku karena harus melihat ke bawah secara konstan dan terus menerus.


Setidaknya, lebaran kali ini, ada sedikit peningkatan skill. Saya jadi tahu cara agar memotong buah untuk memperoleh hasil yang bagus dengan waktu efisien. Ya begitu lah lebaran tahun 2021. Merayakan hari raya dengan sedikit mengupgrade skill. Selamat Lebaran. Mohon maaf lahir batin. Dari saya yang lehernya pegal karena terlalu banyak memotong buah.


10.57

23/05/2021





Sumber Gambar : Image by Martin Vorel from Pixabay 



0 Comments