Sejak semalam hingga Sabtu pagi (8/5), ada yang menggebu-gebu di dalam dada saya sehingga mendorong untuk menulis lagi di blog ini. Sudah sekitar tiga bulan blog ini vakum dan tidak ada terdapat tulis baru sejak 3 Januari 2021. Saya ingat betul, gairah saya begitu kuat pada Januari dan ada rencana untuk melanjutkan proyek-proyek tulisan serta menyelesaikan beberapa tulisan. Namun, memang Tuhan punya jalan hingga dia memberi virus corona pada tubuh saya dan membuat saya beristirahat sejenak dengan tulisan-tulisan saya. Parahnya, waktu istirahat itu membuat saya terbius.

Ditambah lagi, beban pekerjaan saya, tanpa saya sadari, kembali meningkat. Gairah menulis yang tinggi di Januari, akhirnya pelan-pelan menurun. Memang ada beberapa konsep tulisan yang masih bisa saya produksi, tapi tidak berlanjut karena idenya tersendat. Itu beberapa pembelaan mengapa akhirnya belum ada tulisan baru lagi. Lagi-lagi pembelaan. Sebetulnya, sumbernya adalah malas. Dasar, Umar!

Beruntungnya, semalam saya mendapatkan tayangan yang menginspirasi sehingga gairah menulis saya kembali pada jalurnya yang menanjak. Tentu saya berharap, gairah ini selalu menanjak tanpa harus menemui titik puncak. Puncak adalah bahaya dalam hal ini.

Tayangan yang saya tonton adalah sebuah talkshow atau perbincangan antara Helmy Yahya dengan Erix Soekamti dari kanal youtube Helmy Yahya Bicara. Sebetulnya tidak ada yang begitu spektakuler dalam tayangan itu. Helmi Yahya juga seperti kurang menggali Erix Soekamti lebih dalam sehingga obrolan tersebut kurang dinamis dan patah-patah antara perbincangan tema satu dengan tema yang lain. Jiwa tukang kritik saya keluar lagi. Namun kali ini saya tidak ingin membicarakan bagaimana cara Helmy Yahya membawa obrolan tersebut. Saya ingin membicarakan Erix. 

Sedikit-banyak, saya sudah mengetahui Erix ketika saya berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui karya lagunya yang berjudul Pejantan Tambun dan Bau Mulut. Maklum, waktu itu saya sedang terbawa arus musik pop punk bersama kedua kawan saya Wisnu dan Najib. Disamping itu, informasi tentang pergerakannya juga saya ketahui, seperti membuat sekolah bernama DOES University, pergerakan musiknya di belialbumfisik.com dan pergerakan sosialnya ketika membuat saluran air untuk suatu wilayah di Indonesia. 

Banyak hal baik dari apa yang dia lakukan. Sayangnya, tidak ada yang membekas atau menginspirasi saya sebelumnya. Namun, semalam, ditanyangan Helmi Yahya Bicara, saya menyadari bahwa pergerakannya sungguh luar biasa dan memantik saya untuk kembali mencoba berkarya. Terlebih ada satu bagian yang menurut saya sangat menarik yaitu ketika dia mengatakan bahwa terdapat 900 lebih video yang telah diterbitkan di kanal Youtubenya. Menariknya, dia melakukan proses kreatifnya itu sendiri dari mulai merekam sampai merilis video. 

Seperti seseorang yang disiram air ketika sedang lelap tertidur merupakan perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya ketika saya mendengar apa yang diucapkannya Erix. Bagaimana produktifnya dia. Bagaimana keuletannya dia menerbitkan video. Bagaimana konsistensinya dia selama beberapa tahun bergerak di youtube untuk menghasilkan konten. Tentang kualitas video dan konten adalah urusan lain. Setidaknya 900 lebih episode yang telah dihasilkan telah membuktikan intensi dan kinerjanya dia. 

Kinerjanya Erix membuat saya sadar bahwa saya telah membuang waktu beberapa bulan tanpa membuat karya. Hari ini, Erix lah orang yang menyiram saya ketika saya sedang terlena dalam nyenyaknya tidur. Saya menjadi tersadar bahwa ada puluhan ide yang belum tumpah menjadi suatu karya. Ada konsep-konsep tulisan yang harus diselesaikan. Ada harapan-harapan yang harus dijaga. Ada ambisi-ambisi yang harus dituntaskan. Ada semangat yang harus dijaga.

Saya menyadari bahwa gairah bisa timbul dari mana saja, kapan saja dan dari siapa saja. Motivasi harus dicari dan disadari secara persisten hingga hal tersebut memantik saya untuk terus bergerak, agar tidak diam, dan agar ide tidak mati. Terima kasih Erix atas ceritanya.



Sumber Gambar : Image by Arek Socha from Pixabay 

0 Comments