Tidak ada momentum apapun dan tidak ada sebab apapun, entah kenapa saya akhirnya menonton film Theory of Everything. Saat itu, saya baru saja bangun dan tidak tahu hendak melakukan apa. Sampai akhirnya, saya membuka aplikasi film yang berlogo huruf N kapital dan melihat-lihat daftar film yang ada. Sesungguhnya saya sudah mengincar film ini saat awal-awal rilis. Namun, entah kenapa, baru saat hari Sabtu, 12 September 2020, film ini ditonton. Pun, tidak ada alasan yang spesifik dan urgen sampai akhirnya saya menonton film ini, saya hanya ingin tahu sosok Stephen Hawking, yang namanya sering terdengar di telinga saya, namun agak sedikit samar.

Sebetulnya, akan lebih menarik ketika mengulas film ini saat ada momentum tertentu, sehingga ada unsur kedekatan dan agak sedikit aktual, mengingat film ini menceritakan tentang sosok. Pertanyaannya, kapan momentum itu datang? Ya nggak tahu. Toh, sang sosok sudah meninggal di 2018 lalu. Kalau menunggu momentum, terlalu lama atau bahkan mungkin sudah tidak ada. Siapa tahu? sedangkan saya ingin sekali menuliskan Eddie Redmayne (berperan sebagai Stephen Hawking) dan Felicity Jones (berperan sebagai Jane Wilde).

Untuk informasi dasar tentang alur, tokoh, dan hal lainnya, Internet sudah menyediakannya. Tinggal di cari saja. Jika malas, ini saya kasih link wikipedia untuk informasi dasar filmnya. Tentang bagaimana kebenaran informasi di wikipedia, silahkan verifikasi sendiri.

Terkait film di flat form berlangganan, seperti Netflix, Iflix, HBO, Google Play Movie, penilaian saya sederhana yaitu apakah film ini membuat saya betah menontonnya dan enggan meninggalkan setiap adegannya. Sebab, ada waktu sekian menit atau sekian jam yang harus dikorbankan untuk menontonnya. Kita tahu bahwa, waktu adalah hal yang tidak bisa dikembalikan, sebuah cost yang besar. Tentunya, kita semua berharap bahwa film yang kita tonton adalah film yang berkualitas. Berkualitas menurut saya adalah sebuah film harus membuat kesan yang mendalam bagi saya atau memberikan pelajaran. Titik ekstrim sebuah film itu dikatakan berkualitas ketika sebuah film bisa merubah hidup, tingkah laku, sifat seseorang. Tentu, penilaian ini personal. Tapi kira-kira begitu penilain film bagi saya.

Kembali ke The Theory of Everything, film ini cukup berkesan bagi saya. Spesifiknya, saya terkesan dengan Jane Wilde. Meskipun saya tahu, film ini diadaptasi dari memoar Jane akan Stephen Hawking. Namanya memoar, tentu saja dia akan mengungkapkan apa yang membuatnya terlihat atau terkesan baik. Jika, ada hal tidak baik atau terkesan tidak baik, tentu dia akan membantah atau memberi penjelasan mengapa hal itu terjadi.

Oke. Film ini berarti dari sudut pandang Jane. Sederhananya, Jane adalah perempuan hebat. Mungkin jarang sekali manusia yang berani mengambil keputusan seperti Jane. Menikahi seorang mahasiswa yang divonis dengan penyakit motor neuron disease, sebuah penyakit yang membuat otot-otot Stephen dan sarafnya tidak berfungsi dengan baik. Bahkan penyakit itu membuatnya sulit bicara dan lumpuh. Terlebih, Stephen sudah diprediksi meninggal dalam dua tahun setelah muncul hasil diagnosanya. Meskipun prediksi itu salah. 

Hebatnya lagi, Jane rela menikahi Stephen Hawking yang waktu itu masih mahasiswa dengan berpenghasilan yang rendah, tidak pula berasal dari keluarga kaya. Secara logis, banyak orang yang tidak mau menikahi Stephen karena kondisinya. Tapi Jane berani. Apalagi dasarnya kalau bukan karena cinta.

Setelah menikah dengan Stephen, dia mengurus Stephen dan ketiga anaknya. Ini sama seperti halnya Jane mempunyai empat anak. Ia melayani anak dan suaminya dengan telaten. Kita tahu bahwa mengurus rumah tangga tidak mudah. Meski begitu, tidak bisa dinafikan bahwa Jane adalah manusia dan mempunyai perasaan kesal dan bosan ketika mengurus Stephen. Ia pun berada pada titik lelah akan hidupnya karena harus mengurus pekerjaan, anak-anaknya dan mengurus suami lumpuh. Suatu perbuatan mulia.

Seperti itu cuplikan sederhana atas filmnya. Lagi-lagi, tentu saja, film ini dari perspektif Jane.

Angkat Topi untuk Eddie Redmayne dan Felicity Jones

Berbicara karakter, ada dua sosok yang membuat saya harus mengangkat topi dan berdiri untuk bertepuk tangan. Mereka adalah Eddie Redmayne dan Felicity Jones. Eddie Redmayne memerankan karakter Stephen dengan luar biasa. Saya pun setuju ketika dia mendapat penghargaan di Academy Award dan Golden Globe Award. Gerakan-gerakan detail seperti cara dia berjalan, memiringkan bibir saat berbicara, dan memiringkan badannya saat duduk di kursi roda, sampai cara dia menggerakan tangan, seolah itu benar-benar terjadi kepadanya.

Perannya yang baik itu sampai membuat Stephen Hawking mengapresiasi Eddie ketika memenangkan Golden Globe Award sebagai Aktor Terbaik. “Dia terlihat seperti saya, bertingkah seperti saya, dan punya selera humor saya,” Kata Stephen Hawking sambil mengunggah fotonya Bersama Eddie.

Di lain kesempatan, Stephen juga mengucapkan selamat kepada kloningannya. “Selamat kepada Eddie Redmayne atas kemenangannya di #Oscar karena memerankan saya di The Theory of Everything Movie. Kerja yang bagus, Eddie, saya sangat bangga padamu. -SH," tulisnya.

Meski begitu, saya sedikit menduga-duga saja. Apiknya peran Eddie dalam film ini mungkin saja karena sosok yang ia perankan masih hidup, nyata, dan tergambar jelas. Oleh karena itu sudah sepantasnya ia berakting bagus dan meraih penghargaan. Berbeda ketika seorang aktor memerankan tokoh imajiner yang mana tidak ada acuan yang jelas. Mungkin peran ini akan menjadi lebih sulit karena sang aktor harus menginterpretasikan ulang karakter imajiner tersebut yang mana interpretasi tersebut belum tentu bisa tersampaikan dengan baik.

Menurut saya, trade off ketika Eddie berperan sebagai Stephen sangat jelas. Dia bisa berperan sangat memukau atau dia akan berperan buruk. Tidak ada pilihan sedang atau biasa saja. Bagi saya, akting biasa saja atau sedang sama saja dengan buruk dalam kasus ini. Mengapa? Tentu saja, Eddie mempunyai referensi yang jelas dan nyata. Bahkan ia bisa bertanya langsung kepada tokoh aslinya. Tokoh aslinya pun terkenal sehingga banyak penggambaran yang jelas dari segala bentuk media, baik suara, gambar, maupun tulisan. Di sini kesungguhan Eddie akan diuji.

Ya tentu saja, ini penilaian saya, entah benar atau salah, saya tidak tahu. Toh saya bukan aktor, saya hanya ingin memberi sedikit ulasan saja. Tapi saya yakin, tanpa mengurangi rasa hormat, setiap aktor punya kesulitannya masing-masing dalam suatu peran.

Selain Eddie, Felicity Jones pun memainkan perannya dengan mengagumkan. Mimik muka yang terlihat sabar membuat saya seperti merasa kasihan dan iba. Aktingnya ketika dia harus menahan amarah, rasa bosan dan kesal atas prinsipnya Stephen yang keras membuat saya merasakan suatu pergulatan hati. Menahan marah itu tidak mudah. Marah pun jauh lebih sulit dari menahannya. 

Ada sedikit hal yang saya sayangkan atas penilaian banyak orang akan kedua pemeran hebat ini. Orang-orang di luar sana memberi perhatian lebih pada aktingnya Eddie. Felicity hanya mendapatkan perhatian sedikit di bawah Eddie. Padahal, menurut saya, mereka berdua harusnya berada dalam level yang sama. Jika Eddie pandai menirukan gerakan-gerakan detail dari Stephen, Felicity mengirimkan perasaan-perasaan kepada penontonnya dari peran yang ia mainkan. Paduan ini sangat ciamik.

Tentang Si Jenius dan Selera Humornya

Ketika saya melihat film ini, ada bagian-bagian film yang agak jenaka. Tidak terlalu banyak, tapi cukup. Tentu saja, film ini bukan film komedi. Namun adanya adegan jenaka membuat film ini seperti merepresentasikan karakter Stephen itu sendiri dengan selera humornya. Theory of Everything adalah Stephen Hawking.

Seperti halnya pada adegan ketika Stephen diminta oleh orang tuanya untuk menyewa perawat untuk mengurusnya. Namun Stephen menolak karena keluarga kecilnya tidak memiliki banyak uang. Namun ayahnya bersikeras meminta Stephen untuk mencari perawat karena orangtuanya menyadari bawah Stephen sudah menjadi orang yang dikenal di seluruh dunia. Jawaban Stephen sederhana, ”Terkenal karena black holenya bukan karena konser rock,” ujarnya sambil mencoba mencandai orang tuanya yang sangat serius. Ia tahu bahwa teorinya yang terkenal tidak melulu membuatnya banyak uang.

Adegan jenaka lainnya yaitu ketika Jane Marah kepada Stephen di dalam mobil, tapi Stephen malah mengadu kepada anaknya dan mengatakan bahwa “Lihat, Ibumu marah kepadaku,” ujarnya ketika Jane berada di puncak kekesalannya karena Jane menyadari bahwa keluarga mereka bukan keluarga yang normal.

Adegan lainya yaitu ketika dalam seminar, ada seorang penanya yang menanyakan bagaimana cara Stephen menghadapi popularitas. Lalu Stephen menceritakan pengalamannya di Cambridge. Ia mengatakan bahwa, baru-baru ini, dia dihentikan oleh turis di Cambridge. Lalu sang turis bertanya kepada Stephen, “apa anda Stephen Hawking?” Stephen Menjawab “yang asli jauh lebih tampan,” ujar Stephen.

Mungkin adegan-adegan kecil nan sederhana ini menjadi tanda dan seolah berpesan, bagaimanapun, seorang professor jenius, yang terkenal di dunia dengan teori yang banyak diperbincangkan orang, juga memiliki selera humor yang baik. Ini menjadi satu poin plus yang membuat saya tersenyum-tersenyum sendiri ketika menyaksikannya

Filosofi Hidup Stephen

Film ini diakhiri dengan manis dalam adegan bagaimana falsafah hidup untuk orang yang dianggap tidak percaya pada Tuhan. Ada seorang pria bertanya kepada Stephen, “Anda nggak percaya tuhan, apa anda punya falsafah hidup?” tanyanya.

Jawaban Hawking adalah “… Kita semua beda, walaupun kehidupan tampak buruk, selalu ada hal yang bisa kita lakukan dan sukses. Selama ada kehidupan, maka ada harapan,” katanya.

Ini menjadi salah satu quote yang sangat menarik bagi saya dan menjadi closing statement yang indah dalam film ini.




Sumber Gambar : freepik.com (link)



0 Comments