http://himatika.fst.uinjkt.ac.id/

                                               

Jujur saja, gue nggak tahu apakah harus sedih atau bahagia saat seorang kawan, Rifki, mengirim undangan pernikahan melalui pesan WhatsApp. Satu sisi, gue sangat bahagia karena pada akhirnya, dia berani mengambil keputusan sulit untuk mempersunting perempuan yang ia kasihi. Terlebih, jika ditarik kebelakang, banyak hubungan toxic dan nggak jelas yang ia alami hingga gue seringkali menggelengkan kepala atas tingkahnya. Hubungan yang bertepuk sebelah tangan, dijadikan ojek hampir setiap hari, dapet cewek dengan nilai mahar tinggi sampai dipermainkan oleh perempuan yang ia sukai. Ini juga salah satu bentuk saran gue ke dia untuk mempersuntingnya. Gue juga yang memberi saran untuk memutuskan hubungan dengan perempuan-perempuan terdahulunya karena melihat tingkah lakunya yang tidak jelas.

Tapi di sisi lain, gue agak sedih karena salah satu teman seperadventuran gue, nantinya akan sulit untuk diajak melancong. "Santai aja," katanya saat gue bilang kalau nantinya dia bakal susah diajak jalan. Katanya, gue seharusnya bersyukur karena perempuan yang dia nikahi adalah perempuan yang memberinya kebebasan untuk jalan-jalan. Kenapa gue bisa berpikiran bahwa dia akan sulit diajak, sebab, kalau ditarik dari pengalaman gue, yang sudah-sudah, kawan yang sudah menikah akan memiliki orientasi lain ketika berkeluarga. Istri dan keluarga akan lebih diutamakan dan memang seharusnya begitu sih. Gue pun mungkin bakal sama  nantinya saat berkeluarga.

Gue sangat paham bahwa di umur-umur mendekati garis kepala tiga, desakan akan pernikahan semakin kuat. Gue pun begitu di rumah. Saban hari orang tua gue nanyain kapan gue nikah. Ya, gue bukannya nggak mau, cuma emang belum ada calonnya. Mau gimana?

Mungkin kawan gue yang satu ini juga ada tekanan yang sama. Ya intinya gue senang dan sedih. Gue pun akhirnya ngajak doi bertemu untuk sekadar sharing cerita, ya meskipun sedikit banyak gue sudah tahu. Akhirnya jadilah senin malam, 6 Juli 2020, kita berjanji untuk bertemu di Ciputat. Gue ngajak salah satu kawan lain untuk bertemu, yaitu Fahmi.

Gue pun menghubungi Fahmi dengan maksud silaturahmi karena sudah sekitar tiga bulan tidak bertemu akibat pandemi. Gue pun berbincang sedikit dan mengutarakan maksud gue untuk mengajaknya nongkrong. Tapi dengan berbagai alasan dia menolak. Awalnya gue pikir akan mudah mengajak dia karena dia ngekos di Ciputat. Hingga pada satu titik gue sangat kesal karena dia menolak terus. Gila. Padahal Rifki yang mau nikah, kawan yang saban hari main ke kosannya untuk berbincang.

Dia pun akhirnya mengatakan bahwa dia sudah tidak lagi ngekos di ciputat dan sudah menetap di Bogor. Gue langsung shock. Lemas. Yang utama sih sedih. Padahal gue yang sering nyaranin Fahmi untuk cabut dari kosannya karena dia sering bermasalah dengan keuangan. Gue yang menyarankan dia untuk tinggal saja bersama orang tuanya di Bogor dan bekerja menggunakan kereta ke Jakarta agar lebih hemat. Tapi ketika dia cabut dari kosan, kok kesedihan gue semakin meningkat. Tapi yasudah, itu pun untuk kebaikannya.

Pada Senin malam, akhirnya gue berangkat ke Ciputat pakai motor Honda Beat. Entah kenapa di perjalanan, kesedihan gue berlipat ganda. Kawan-kawan yang menemani sepinya hari gue belakangan ini akan cabut untuk menyongsong masa depannya. Terlalu banyak kenangan di Ciputat bersama mereka. 

Sekitar pukul tujuh, gue sampai di sebuah kafe bernama Interval, cukup cozy tempatnya. Beberapa menit kemudian Rifki pun sampai. Hingga kita memilih meja. Kalimat awal yang gue ucapkan adalah selamat dan sedih.

Gue ceritain sedikit kesedihan gue. Tapi di momen yang harusnya bahagia, topik pembicaraan gue keputer-puter. Dia pun menceritakan proses bagaimana akhirnya dia yakin untuk menghalalkan kekasihnya. Gue turut bangga juga akan keberaniannya. Salut. Respect. Sampai tak terasa sampai pukul 11, gue mengundurkan diri karena ada sedikit keperluan dengan pekerjaan.

Dulu, pukul sebelas belum seberapa malam. Bahkan sering kali, pukul 11 menjadi waktu awal untuk ngobrol. Tapi yasudah, semakin bertambahnya umur, semakin banyak pula beban pikiran hingga energi untuk nongkrong semakin berkurang. Meninggalkan ciputat malam itu rasanya agak sedikit berat. Tapi jika berpikir tentang kewajiban atas embel-embel profesionalitas, mau tau mau harus dilakukan juga. Malam itu semakin sunyi. Mungkin saja tak ada bintang sebagai penghias malam. Entahlah. Kelamnya malam lagi-lagi sangat memburu.

Selamat Menikah Rifki dan Sri a.k.a Agil. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, Warohmah. Semoga gue segera menyusul. Amin.


26/07/2020

Tempat Biasa



Sumber gambar : himatika.fst.uinjkt.ac.id/

0 Comments