‌Minggu lalu, gue dan beberapa kawan pergi bersepeda. Tidak jauh, dari Ciledug menuju Bintaro atau tidak salah, kurang lebih 20 kilometer jarak yang gue tempuh dari rumah-bintaro-rumah. 

Kondisi di jalan cukup ramai. Barangkali orang sudah jenuh di rumah pada kondisi Covid seperti ini sehingga aktifitas di luar rumah menjadi suatu kemewahan. Banyak aktifitas di luar rumah yang kembali diminati orang yang sebelumnya jarang ditemui jika kondisi normal. Katakanlah bersepeda. Mungkin akibat Work From Home (WFH) yang membuat waktu masyarakat menjadi lebih panjang.

Berbicara tentang bersepeda, bisa dikatakan, aktifitas ini menjadi suatu alternatif olahraga yang menyenangkan ditengah kondisi yang tak menentu ini. Cukup dilema memang, saat pemerintah meminta masyarakatnya untuk diam di rumah, banyak warga yang berkeliaran. Setidaknya bersepeda menjadi suatu alasan yang bisa dipilih karena membawa embel-embel olahraga. Meskipun ancaman Covid itu nyata. Bohong jika gue nggak menjadikan bersepeda menjadi sebuah alasan untuk keluar rumah. Terlebih bersepeda dengan kawan. 

Seusai bersepeda, kami rehat di sebuah warung kopi di bilangan Bintaro, gue dan kawan-kawan sedikit berbincang. Tanpa topik khusus. Mengalir begitu saja. Tentu saja bahasan kita adalah masa-masa di SMA karena kita sama-sama bersekolah di SMA 63.

Suatu ketika, kawan gue bernama Toyib menyela, "Kangen juga ya nongkrong kaya gini. Kalau Gue bilang sama istri untuk pergi nongkrong, kaga dibolehin. Tapi kalau bilangnya sepedahan, dibolehin," kira-kira begitu ujarnya. Agak sedikit jenaka memang mengingat tubuh dia yang besar dan sangar tapi sangat patuh dengan istri. Terlebih membayangkan bagaimana rebelnya dia waktu SMA.

Dari situ, gue juga menyadari bahwa bukan hanya gue yang merindukan nongkrong, tapi kawan-kawan gue juga sama. Nongkrong menjadi suatu pemuas dahaga jiwa kalau boleh gue bilang. Di saat kita jenuh akan sesuatu, beromantisme tentang masa lalu, membicarakan kebodohan-kebodohan kita di kala SMA dan hal-hal remeh temeh lain seperti menekan F5 pada komputer. Kembali merefresh hidup.

Gue merasa ingin menghentikan waktu. Nongkrong-nongkrong seperti ini sangat gw rindukan. Terlebih nongkrong dengan kawa-kawan dekat. Wah, seperti melepas beban. Urat syaraf kayanya agak lebih kendor dan bisa lebih menikmati hidup.

Kalau dipikir-pikir sudah 10 tahun gue melewati masa SMA. Tapi rasa-rasanya baru beberapa waktu lalu gue lulus. Ah ancaman waktu itu nyata. Apa gue yang terlalu serius akan hidup? Sehingga rasa-rasanya waktu berlalu begitu cepat dan datar.

Gue rindu masa-masa SMA ketika beban hidup gw sedikit dan target gw sederhana. Hanya lulus dari sekolah. Tak perlu memikirkan sulitnya mencari uang dan harus banyak berkompromi karena angan-angan SMA banyak yang kandas. Ah begitu rupanya menjalani hidup selepas sekolah.

Seandainya Doraemon itu real dan kita bisa kembali ke masa lalu dengan alatnya. Seandainya. Tapi memang jikalau bisa kembali ke masa lalu, ingin rasanya kembali, tapi di part nongkrongnya saja. Di part part ujian yang sangat serius, rasanya gue enggan.

Mudah-mudahan gue dan kawan-kawan gue yang lain, kawan SD, SMP, SMA, kuliah dan kawan-kawan lainya, punya  banyak waktu untuk nongkrong seperti dulu. Supaya bisa sering-sering ketik f5, gue sih yang harus sering-sering supaya nggak terlalu pegel jalanin hidup.

11 Juli 2020
Sambil rebahan ngetik di notes Hp



Sumber gambar :  Maike und Björn Bröskamp - Pixabay (link)

0 Comments