Skip to main content

Tentang Orang Hitam, Orang Putih, dan Usaha Berlaku Adil Sejak dalam Pikiran.

Sumber gambar : Freepik.com

Jumat malam, tanggal 26 Juni 2020 sekitar 21.15, Najib, seorang kawan karib, menyambangi kediaman saya untuk mengembalikan helm cetok yang dia pinjam. Dia baru saja pulang dari petualangannya bersepeda mengarungi bukit di sekitaran daerah Parung. Sudah barang tentu, dia membawa "oleh-oleh" dalam bentuk cerita tentang pengalaman yang cukup membuat saya iri. Pasalnya, sudah sejak lama saya ingin bersepeda di bukit/hutan untuk merasakan pengalaman baru. Tapi apa daya, sampai sekarang keinginan saya masih belum bisa dituntaskan.

Mungkin, dia berpikir bahwa kedatangannya tak akan lama sehingga dia enggan ketika saya persilahkan masuk dan duduk. " Di sini aja, Mar," katanya ketika berdiri di depan pagar rumah. Mungkin Ia lupa bahwa banyak pertemuan kita akan berbuntut panjang jika memang tidak ada hal yang urgent banget. Mungkin niat hatinya adalah mengembalikan helm, chit-chat sedikit lalu pulang. Dia salah prediksi, pun juga saya. Sampailah kita ngobrol hampir 2 jam sambil berdiri dan tanpa minum. Tentu itu membuat saya agak sedikit pegal dan haus.


Apa tujuan obrolanya? tidak ada. Kita terbiasa ngobrol apa aja, dari topik satu loncat ke topik lainnya. Hingga sampailah pada pembahasan tentang orang yang belum pernah pacaran selama seumur hidup. Belum pernah pacaran apakah sebuah aib atau achievement? oke itu pembahasan lain, yang pasti saya dan Najib memiliki teman perempuan yang sama dan perempuan tersebut belum pernah pacaran. Kok bisa? Ya bisa. Di saat sosial media sering menyudutkan orang yang jomblo, faktanya kita punya teman tidak punya pacar, bahkan dari lahir. Apakah dia kurang menarik? Tidak. Dia menarik. Tidak Cantik? Oh tentu dia cantik.


Saya sempat mencoba mengenalkan seorang teman kepada si cantik ini. Tapi tak ada hasil. Saya tidak tahu mengapa. Prediksi sederhananya, ya tidak cocok saja mungkin. Sampai kami menebak-nebak bahwa si cantik ini tidak mau karena teman saya tidak ganteng. Akhirnya saya dan Najib membahas tentang definisi cantik dan ganteng serta padanannya dengan warna kulit. Menurut saya, 
Beautiful is in the eye of the beholder.” setiap orang punya definisi cantik dan tampan masing-masing. Namun ketika saya mencoba mendeskripsikan seseorang kawan saya yang menurut saya keren, saya tidak sengaja menyebut orang yang berwarna kulit hitam dengan menyematkan kata maaf. Hah? Gimana gimana?

Begini singkatnya. Jadi ketika saya coba membicarakan tentang orang yang kulit hitam. Saya agak bingung bagaimana cara mengatakannya, sebab saya mencoba menyampaikannya dengan baik, tidak mengandung unsur rasial dan adil. Kira-kira begini. “Jib gw punya temen yang keren, kaya, berpendidikan, classy dan 'maaf' dia berkulit hitam,” kira-kira begini pilihan bahasa saya.  Bagaimana tafsiran atas ucapan saya tersebut? Well, itu cara saya mendeskripsikan orang yang berkulit hitam.


Namun, tiba-tiba, kawan saya ini menyelak. “Kenapa lu sebut kata maaf saat ngomong orang berkulit hitam, tapi lu nggak kasih kata maaf ketika nyebut orang putih. Emang kenapa?” kira-kira begitu kata-kata Najib. Wah, denger selaan pertanyaan itu, saya seperti kesetrum. Kaget. Saya langsung tersadar bahwa ucapan saya, yang saya usahakan agar sopan, tidak rasial, justru mengandung unsur sangat rasial. Saya langsung menyadari hal itu dan jadi bahan diskusi kami berdua. “Oh iya, kenapa gw harus sebut kata maaf.” sebab jika pakai logika terbalik, misalnya gini. “Jib gw punya temen yang keren, kaya, berpendidikan, classy dan 'maaf' dia berkulit putih.” Pertanyaan yang langsung muncul, kenapa lu sebut kulit putih dengan kata maaf. Emang ada apa dengan kulit putih. Emang kulit putih itu inferior? Kan tidak. Sesungguhnya ada sedikit penyesalan ketika mengungkapkan kata 'maaf'.  Kata 'maaf' yang baik itu dan sering diasosiasikan dengan kerendahan hati. Menjadi sebuah kata yang cukup membuat artinya melenceng sebegitu jauh.


Seketika itu saya teringat petikan kata-kata dari Pram. 
“Orang yang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, apa lagi perbuatan,”

Ketika saya mencoba adil yang dimulai dalam pikiran, ternyata sulit dan tidak semudah itu. Karena ketika kita mencoba berpikir adil, belum tentu perbuatan dan kata-kata bisa merefleksikan. Mengutip kata Pak Sapardi Djoko Damono, bisa jadi bilangnya begini maksudnya jadi begitu.


Dari situ, saya belajar dan sampai pada suatu kesimpulan bahwa, yasudah kalau mau menyebut orang putih ya orang putih saja. Kalau menyebut orang kulit hitam ya orang kulit hitam saja. Menyebut sipit atau belo ya sipit atau belo saja. Menyebut pesek atau mancung yang begitu saja. Menyebut rambut lurus atau keriting yang lurus atau keriting saja. Menyebut tinggi atau pendek yang tinggi atau pendek saja. Mungkin menurut saya hal itu lebih adil. Balance. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi. Diperlakukan sama. Memang sudah begitu naturenya. Sudah terciptanya begitu dan itu adalah keberkahan.


Eh tapi nanti dulu, saya yakin pasti ada orang yang salah tangkap juga kalau saya ngomong direct begitu. Misalnya “Dia pintar dan berhidung pesek,” pasti ada juga orang yang bilang itu tidak baik. Mungkin saya akan dinasihati, kalau mau ngomong hidung pesek harus pakai kata maaf.


Tapi ya sudahlah. Bukankan kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Pada titik ini akhirnya saya menyadari bahwa sebegitu dahsyatnya konstruksi pemikiran hingga masuk ke alam bawah sadar. 
Terlebih saat ini sedang hangat-hangatnya kasus George Floyd dan isu rasial saudara saya sebangsa setanah air di Papua. Bahwa saya tahu, jika menilik sejarah tentang hal ini, akan ada pembahasan yang sangat panjang dan berjilid-jilid. Misalnya tentang bagaimana politik apartheid, tentang white supremacy dan hal-hal lain tentang ketidakadilan. Oke, I wish nothing but the best for this world. Semoga keadilan sosial tercipta bagi seluruh rakyat dunia. 

Oke, setelah pembicaraan tentang kulit putih dan hitam, ada topik lain juga yang kami perbincangkan. Sampai akhirnya kita sadar bahwa hari sudah semakin malam. Pembicaraan tersebut, akhirnya kami disudahi sekitar pukul 23.00 dengan sebuah rencana untuk bersepeda di gunung/hutan. Semoga rencana gowes itu segera terlaksana dan tidak hanya sebagai diskursus bagi kami berdua. Sudah terlalu banyak wacana yang tercipta. Untuk bersepeda di gunung, JANGAN!



Ruang Kontemplasi

27/06/2020
15:32



Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…