Skip to main content

#1 Biarlah Blog Ini Hidup Walaupun Tak Berguna



Image by Peggy Choucair from Pixabay








Bosan dan capek. Itu yang akhirnya memotivasi gue untuk ngebuka blog lagi. Seharian bolak-balik buka HP, lihat media sosial (Instagram, Twitter, Facebook), cari video di youtube, dan buka Netflix membuat gue kayaknya capek banget. Timeline Twitter, FB dan Instagram rasa-rasanya udah gue scroll sampai mentok. Asli. Bingung mau ngapain lagi. Sampai akhirnya gue mandi siang dan merasa harus melakukan sesuatu. Memang kamar mandi punya unsur magis, suka menelurkan ide kreatif. Padahal kamar mandi tempat setan bersarang.

Rasa-rasanya otak gue sudah terlalu sistematis akibat kerja di kantor, ngubek-ngubek peraturan pajak dan ngerjain urusan-urusan administratif. Sisi otak bagian kreatif gue udah mulai lumutan. Kalau nggak diasah lagi sisi otak bagian kreatifitasnya, gue takut jadi orang yang kurang selow, mudah marah, sedikit selera humor, dan kurang asik.

Sampai akhirnya, gue memutuskan untuk membangkitkan lagi arwah blog ini dan mungkin akan buat akun youtube. Ini yang paling potensial yang untuk mengasa kreatifitas. Tapi rasa-rasanya untuk buka akun youtube dan siapin kontennya itu masih agak jauh buat gue. Ngeblog yang dirasa tidak sulit. Akhirnya gue buka-buka lagi blog yang hidup segan dan mati tak mau ini.

Alasan membeli Domain
Singkatnya, kalau gue amati, isi konten gue adalah isi konten yang kurang menarik. Tapi yaudah lah ya, peduli setan. Tidak ada aturan yang mengharuskan untuk membuat konten yang menarik. Biarlah blog ini hidup walaupun tak berguna.

Sambil telusur konten, gue juga mikir, kok nama blog gue kurang asik. hasilketikantangan.blogspot.com. Gue berpikir ulang, waktu itu kenapa ya gue kasih nama itu. Kok gue bisa kasih nama seaneh itu yaa. Ini salah satu motivasi lagi yang membuat gue akhirnya membeli domain.

Saat sudah sampai tahap mau beli, gue juga bingung, mau dikasih nama apa lagi. Yaudah, gue kasih nama padasuatuhari.com. Kenapa pada suatu hari, karena kalau gue liat, blog gue adalah ladang untuk bercerita. Nah, biasanya kalau cerita, sering dimulai pada pada suatu hari, jadilah itu nama blog. Simple meskipun tidak sesimple itu sih gue dapat namanya.

Gue beli domain seharga IDR 165.930. Mudah-mudahan, dengan uang yang gue keluarin ini membuat gue lebih nggak mager untuk menulis. Ada cost yang keluar dan harus ada yang gue dapetin setidaknya kepuasan batin kalau nggak bisa dapat cewek dari blog ini.

Setelah udah gue beli dan dapat kwitansi virtual, gue punya kendala sinkronisasi blog gue dengan domain yang gue beli. Gue pun cari sendiri di internet dan gue ngerasa internet nggak membatu. Akhirnya gue telpon kawan-kawan gue yang biasa jadi webmaster dan sialnya nggak ada yang angkat. Mau nggak mau, gue oprek-oprek lagi informasi dari internet. Satu hal yang gue sadari, ternyata gue orangnya males baca. Padahal di email dan di internet sudah dikasih tahu jelas dan mudah. Tapi memang karena gue males baca makanya prosesnya jadi sedikit lebih panjang sampai harus menghubungi kawan-kawan.

Selama ini gue self proclaim bahwa hobi gue baca. Tapi untuk hal sederhana seperti itu, gue males baca. Bullshit memang. Salah satu bentuk paradoks yang ada di bumi. Makanya mungkin Indonesia ada diperingkat bawah terkait budaya membaca. Ya gue punya andil di situ yang membuat peringkat indonesia berada di peringkat bawah dalam hal membaca.

Btw, Finally, here I am. Gue adalah owner dari padasuatuhari.com. Gue udah tulis di bio Instagram dan twitter juga. Hiduplan meski tak berguna!


27/06/2020
2027

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…