Dahulu, ketika baru masuk pada fase baligh, bapak saya berujar "waktu seperti pedang dengan dua mata." Satu sisi, bisa bermanfaat bagi saya. Sisi lain, bisa menebas saya hingga terkapar. Saat itu, menurut saya, ungkapan itu hanya kiasan, mungkin bisa menjadi kutipan manis di bagian belakang buku motivasi. Saya abai sebab yang saya pikir kala itu, bagaimana cara menghabiskan waktu dengan bermain sambil bersekolah, tentu saja, tujuan sekolah adalah bermain.

Jika ditengok sedikit kebelakang dengan sedikit kontemplasi, waktu memang progresif dan selalu melaju beriringan dengan proses pertumbuhan. Detik terakumulasi menjadi menit, menit  beranjak menjadi jam dan berubah menjadi hari. Waktu bertambah namun mengurangi umur saya.

Jika hidup adalah kompetisi, waktu selalu menang dan saya adalah pecundang. Kemenangan waktu adalah keniscayaan dan mencoba mengalahkan waktu adalah kesia-siaan. Sebab waktu yang berjalan dapat membunuh secara perlahan meski ada banyak manusia yang diberkati umur panjang.

Berbahagialah orang yang punya waktu untuk merefleksi diri. Berpikir ulang tentang tujuan dan alasan kenapa kita berdiri di sini. Tentu saja mensyukuri apa yang kita punya pada diri.

Memang, terkadang waktu tidak bisa menjadi patokan. Sebab, setiap orang punya zona waktunya sendiri-sendiri dan orang lain akan sulit untuk memprediksi. Tak terkecuali dengan saya, dengan waktu yang diberikan, saya masih berkutat pada proses menuju kejayaan disela-sela jarum jam yang berjalan. Memang, jika sesekali direnungkan, banyak angan-angan  sudah dituntaskan. Seperti halnya selalu berada di tempat terbaik dengan orang-orang baik. Namun,  manusia tetaplah manusia yang diberkati akal dan hasrat. Bukankah itu yang membedakan manusia dengan malaikat. Hasrat dan keinginnan yang timbul dari pengalaman empiris manusia itu, menanti untuk ditaklukan.

Hai keinginan, saya datang. Hai waktu, saya tawarkan sebuah persahabatan. Semoga tidak ada penghianatan diantara kita.

28/12/2018



Sumber Gambar : Freepik.com (link)

0 Comments