Skip to main content

Kontemplasi

Dahulu, ketika baru masuk pada fase baligh, bapak saya berujar "waktu seperti pedang dengan dua mata." Satu sisi, bisa bermanfaat bagi saya. Sisi lain, bisa menebas saya hingga terkapar. Saat itu, menurut saya, ungkapan itu hanya kiasan, mungkin bisa menjadi kutipan manis di bagian belakang buku motivasi. Saya abai sebab yang saya pikir kala itu, bagaimana cara menghabiskan waktu dengan bermain sambil bersekolah, tentu saja, tujuan sekolah adalah bermain.

Jika ditengok sedikit kebelakang dengan sedikit kontemplasi, waktu memang progresif dan selalu melaju beriringan dengan proses pertumbuhan. Detik terakumulasi menjadi menit, menit  beranjak menjadi jam dan berubah menjadi hari. Waktu bertambah namun mengurangi umur saya.

Jika hidup adalah kompetisi, waktu selalu menang dan saya adalah pecundang. Kemenangan waktu adalah keniscayaan dan mencoba mengalahkan waktu adalah kesia-siaan. Sebab waktu yang berjalan dapat membunuh secara perlahan meski ada banyak manusia yang diberkati umur panjang.

Berbahagialah orang yang punya waktu untuk merefleksi diri. Berpikir ulang tentang tujuan dan alasan kenapa kita berdiri di sini. Tentu saja mensyukuri apa yang kita punya pada diri.

Memang, terkadang waktu tidak bisa menjadi patokan. Sebab, setiap orang punya zona waktunya sendiri-sendiri dan orang lain akan sulit untuk memprediksi. Tak terkecuali dengan saya, dengan waktu yang diberikan, saya masih berkutat pada proses menuju kejayaan disela-sela jarum jam yang berjalan. Memang, jika sesekali direnungkan, banyak angan-angan  sudah dituntaskan. Seperti halnya selalu berada di tempat terbaik dengan orang-orang baik. Namun,  manusia tetaplah manusia yang diberkati akal dan hasrat. Bukankah itu yang membedakan manusia dengan malaikat. Hasrat dan keinginnan yang timbul dari pengalaman empiris manusia itu, menanti untuk ditaklukan.

Hai keinginan, saya datang. Hai waktu, saya tawarkan sebuah persahabatan. Semoga tidak ada penghianatan diantara kita.

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#4 Kisah Sedih di Hari Senin

Jujur saja, gue nggak tahu apakah harus sedih atau bahagia saat seorang kawan, Rifki, mengirim undangan pernikahan melalui pesan WhatsApp. Satu sisi, gue sangat bahagia karena pada akhirnya, dia berani mengambil keputusan sulit untuk mempersunting perempuan yang ia kasihi. Terlebih, jika ditarik kebelakang, banyak hubungan toxic dan nggak jelas yang ia alami hingga gue seringkali menggelengkan kepala atas tingkahnya. Hubungan yang bertepuk sebelah tangan, dijadikan ojek hampir setiap hari, dapet cewek dengan nilai mahar tinggi sampai dipermainkan oleh perempuan yang ia sukai. Ini juga salah satu bentuk saran gue ke dia untuk mempersuntingnya. Gue juga yang memberi saran untuk memutuskan hubungan dengan perempuan-perempuan terdahulunya karena melihat tingkah lakunya yang tidak jelas. Tapi di sisi lain, gue agak sedih karena salah satu teman seperadventuran gue, nantinya akan sulit untuk diajak melancong. "Santai aja," katanya saat gue bilang kalau nantinya dia bakal susah dia…