Sekitar pukul 3.30, kususuri lajur pedestrian diantara gedung-gedung pencakar langit yang tegak berdiri angkuh tersirat.

Sambil kuhisap sigaret yang tinggal setengah batang, kurenungi apa yang baru saja kulakukan dari fajar yang menyerang hingga saat-saat mulai meredupnya bulan dimakan terang.

Sedikit demi sedikit aku mulai percaya bahwa penderitaan merupakan jembatan menuju kebahagiaan.

Tak ada selebrasi kemerdekaan tanpa adanya darah yang tumpah berceceran dari perjuangan.

Rasa-rasanya sungguh kasihan orang-orang yang selalu dirundung kebahagiaan. Sebab suatu yang dilakukan berulang sering berujung pada kebosanan.

Perlu kebahagiaan baru atau lebih untuk mendapatkan kebahagiaan.
Sial, mengapa teori ekonomi tentang kepuasan dirasa tepat.
Bangsat memang.

Jika malam adalah kelam dan penderitaan, mungkin rembulan dan lampu yang berpendar itu adalah secuil gambaran kebahagiaan.
Ia terang dalan kelam.

Tentu saja, tak ada keindahan lampu kota jika ia beradu pada terik matahari ibu kota.

Jalanku amat panjang, punggungku berkeringat pada dingin malam yang menusuk saraf.

Langkahku dipercepat, sebab aku harus istirahat sejenak. Cukup sejenak, agar besok hari bisa kuhadapi dengan sigap.

9 September 2019.
00:00
Disebuah ruang, dikursi malas.




0 Comments