Skip to main content

Terjerat

Setiap kita punya misi. Itu yang membuat kita hidup. Begitu juga kau. Aku tahu misimu meski selalu kau sembunyikan dibalik wajah ceria meronamu. Serupa udang yang bersembunyi di bebatuan, tak terlihat pada awalnya, meski akhirnya terciduk juga.

Pemberontakan. Agak ekstrim awalnya. Lalu kau datang kepadaku, serupa propagandis ketika mengajak massa bergerak. Kau bercerita begitu semangat tentang kebebasan untuk memilih, berpendapat, dan berkumpul. Ibarat bangsa yang dijajah tirani, kau ingin bebas dari kedigdayaan diktator otoriter yang melumat kesederhanaan menjadi kemiskinan.

Tanpa banyak kata. Kata-kata iya, boleh, ayo, siap, terlontar dari mulutku. Sederhana. Lalu kita melangkah bersama. Unjuk rasa kecil-kecilan kita lakukan. Namun saat ada aksi dari pihak istana, kau takluk. Lalu kau diguyur dengan kemewahan, keindahan, dan angan-angan akan perubahan di masa depan. Janji setia terucap di atas dunia yang penuh ketidaktentuan.

"Oh, yasudah jika memang cukup," ujarku ketika kau anggap perjuangan telah usai. Kita tak berjumpa. Entah beberapa lama. Dunia berputar seperti biasa. Yang berkecukupan menjadi berlebih, yang berkekuranga menjadi tak punya. Selalu ada dua kutub di dunia ini. Mungkin itu yang membuat dunia seimbang.

Hingga pada suatu masa kita berjumpa. Kukira kau serupa kacang yang isinya selalu ditelan dan kulitnya selalu dibuang. Tapi nyatanya tidak. Lalu kita bicara tentang perjuangan. Oh kau rupanya terjebak. Hutang budimu terlalu banyak hingga tak ada pilihan kecuali pasrah.

Aku sudah pernah katakan, bukan? jangan percaya pada si mulut besar. Dia pandai membual dan tidak lucu.

Dengan maksud yang samar, kau mengajaku melawan untuk kedua kalinya.. Ah, tak sulit membacamu, kau perempuan yang emosinya selalu tercurah. Kuterima ajakanmu untuk kedua kalinya. Unjuk rasa yang lebih ektrim kita lakukan. Perlahan tapi pasti kita maju. Hal itu membuat istananya bergetar, dan dia mulai was-was.

Perlawanan semakin masif. Dia pun menyerah. Kemudian, aku dicari, ingin diberi kemewahan yang sebetulnya tidak seberapa. Setelah kurenungkan sejenak, ternyata, dia pun tidak ada apa-apanya kecuali kesombongan dari kebohongan yang ingin menunjukan kebesaran namun sebetulnya menggambarkan kejatuhan.

"Oh segitu saja."

Kini kau terjebak. Dia memberimu janji untuk kesekian kali, mencoba menawarkan masa depan dengan bualan. Kau tahu sebetulnya dia sedang bersilat lidah, tapi ada hal yang selalu menahanmu pergi, yaitu; Balas budi.

Sedangkan aku di sini dengan kesederhanaan yang sebetulnya merupakan kemewahan hidup. Kini aku hanya tertawa. Sepenuh hatimu memilih kebebasan, dan lingkunganmu menuntut tuntasnya utang. Jangan memilih, saranku. Sebab aku bukanlah pilihan. Unjuk rasa itu, biarlah berlalu, melapuk, bersama angin dan hujan. Sedangkan perjuangan kita, tak perlu dikenang.

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…