Jujur saja, ketika berbicara tentang lukisan, saya angkat tangan. Pemahaman saya tentang lukisan sangat minim, terlebih terkait hal-hal detail dan filosofis. Menggambar itu susah, pun melukis. Tapi saya mengagumi seni lukis. Di sisi lain, intensitas saya untuk datang ke pameran pun rendah karena informasi yang kurang masif. Meski harus saya akui, hanya beberapa akun media sosial terkait kesenian yang saya ikuti di dunia maya. Namun beruntungnya, informasi tentang pameran lukisan “Senandung Ibu Pertiwi” di Galeri Nasional (Galnas) sampai juga di pemberitahuan akun media sosial saya.

Tanpa pikir panjang, saya tinggalkan sejenak urusan revisi tugas akhir kuliah dan meng”iya” kan ajakan kawan untuk menghadiri pameran lukisan koleksi istana Republik Indonesia (RI) . Saya pun mengajak pemilik blog young, write & free untuk berkunjung pada Sabtu, 12 Agustus. Sekadar info, pameran ini berlangsung atas inisiasi Kementrian Sekretariat Negara RI untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-72. Satu lagi, pameran ini tidak dipungut biaya alias GRATIS. 

Pameran ini bertujuan supaya masyarakat, seperti saya, bisa menikmati karya-karya seniman yang bekualitas tinggi dan juga untuk memamerkan karya unggulan seniman Indonesia kepada khalayak dunia. Selain itu, Kementerian Sekretariat Negara ingin menunjukan komitmennya kepada karya-karya seni dari masa lalu yang dijadikan koleksi istana kepresidenan. Pameran ini merupakan yang kedua setelah pameran “Goresan Juang Kemerdekaan” yang terselenggara pada tahun 2016.

Galeri Nasional dan Karya Seniman Berkualitas




Sekitar pukul 10 pagi, saya tiba di Galnas. Terlihat kerumunan bersiap untuk memasuki gedung A Galnas. Saya pun menuju meja registrasi karena sebelumnya saya mendaftar melalui online. Setelah itu, saya mengambil nomor antrian dan cukup kaget melihat nomernya. Sebab, ada jeda sekitar 90 nomer sebelum saya dipanggil. Ramai sekali, pikir saya waktu itu. Meski begitu, para penunggu diberikan ruang tunggu yang cukup nyaman dengan pengatur suhu yang sejuk. 

Beruntung, seorang temen blogger, yang menjadi bagian dari jadimandiri, sudah mengambil nomer antrian terlebih dahulu jadi saya tak perlu menunggu lama. Satu nomor antrian bisa digunakan untuk 1-5 orang jika saya tak salah informasi. Barang-barang bawaan harus saya titipkan karena hanya kamera dari telepon genggam yang diizinkan untuk mengambil gambar. Selain itu, ada beberapa proses pengecekan keamanan (security check) seperti metal detector sebelum masuk ke ruang pameran. Setelah saya dianggap aman dan tak membawa ancaman, saya diizinkan masuk. Saya pun berkeliling dan mengambil beberapa foto. Dalam mengambil gambar, salah satu aturannya adalah dilarang menggunakan penerang kamera (flash light). 

“Terdapat sekitar 48 lukisan yang dipamerkan,” ujar pemadu wisata di sana. 48 lukisan ini dilukis oleh 41 pelukis dari abad 19-20. Kemudian, beberapa arsip pameran pun dipampang untuk menambah wawasan terkait lukisannya. Lukisan-lukisan itu dibagi ke dalam empat tema kecil yaitu; keragaman alam, dinamika keseharian, tradisi dan identitas, dan mitologi dan religi. 

1. Keragaman Alam terdiri dari 12 lukisan yang mencerminkan daya tarik kepulauan yang indah dan menjadi keunggulan wisata dunia. Sawah, hutan, gunung, pantai, tebing dan sungai dimanifetasikan pada lukisan-lukisan yang dipamerkan. Lukisan yang paling saya suka adalah lukisan bertamasya ke dieng yang dibuat pada 1949 oleh Kartono Yudhikusumo.

2. Dinamika Keseharian menggambarkan aktifitas sehari-hari dari masyarakat ketika sedang bertani, mencari ikan dan berdagang. Terdapat sekitar 11 lukisan tentang tema ini. Lukisan Tari Redjang menjadi lukisan favorit saya pada tema ini. Lukisan yang dibuat pada canvas berukuran 186 x 252 cm tersebut dibuat pada tahun 1952-2953 dan dipajang di Istana Cipanas. 

3. Tedapat 15 lukisan yang menggambarkan Tradisi dan Identitas. Sebagian besar, lukisan pada tema ini menggambarkan perempuan menggunakan kebaya karena kebaya menunjukan tradisi dan dan idenstitas berbusana pada negeri ini.

4. Tema terakhir adalah spiritualitas dan religi, Nilai-nilai mitologi yang ada dimasyaakat itu berasal dari perpaduan agama-agama besar yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Proses kreatif penciptaan lukisan-lukisan tersebut, diilhami dari keyakinan agama yang dianut oleh masing masing para pelukis. 

Untuk mengetahui detail lukisan dan keterangannya, pengunjung bisa melihat pada aplikasi Calibre dan kemudian menscan barcode yang ada di brosure. Terdapat kemudahan bagi pengunjung jika tidak sempat melihat semua lukisan.

Mitologi dan Nyai Roro Kidul





Dari keempat tema yang dipamerkan, tema yang menyita waktu terbanyak adalah Mitologi dan Religi. Mitologi tentang perempuan berparas cantik serta memiliki kuasa, mendapat tempat tersendiri dalam literatur nusantara. Dalam pameran tersebut, ketertarikan terbesar saya jatuh pada lukisan perempuan bergaun hijau sedang menari. Lukisan tersebut dibuat oleh Basoeki Abdullah dan berjudul Nyai Roro Kidul.

Bagi saya, lukisan fenomenal penguasa pantai selatan ini memiliki daya pikat sendiri. Terlebih, cerita-cerita mitologi tentangnya yang beredar di masyarakat. Semakin menjadi menjadi magnet bagi saya untuk memperhatikanya lebih detail serta mengambil foto dengan lukisan ini. Banyak para pengunjung yang tertarik untuk mengabadikan gambar pada lukisan otentik yang dibuat pada tahun 1955 ini. Ada sedikit antrian ketika pengunjung ingin berfoto dengan leluasa pada lukisan berukuran 160x120 cm ini.

Setelah puas mengambil foto dalam gedung pameran, saya pun menyudahi kunjungan saya karena suasana dalam ruang pameran semakin padat. Ada kepuasan tersendiri setelah menyaksikan lukisan-lukisan karya pelukis hebat. Sangat disayangkan jika pemeran ini tidak dikunjungi, terutama bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Bagi kalian yang ingin berkunjung, pameran ini berlangsung dari tanggal 2-30 Agustus. Jadi jangan lewatkan pameran menarik ini ya.

Salam.

19/8/2017 5:33
Bilik renung



- Gambar 1 : Gedung A Galeri nasional menjadi tempat berlangsungnya pameran lukisan "Senandung Ibu Pertiwi"
- Gambar 2 : Salah satu lukisan yang termasuk dalam tema Tradisi dan Identitas
- Gambar 3 : Lukisan Nyai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah
Sumber Gambar : Koleksi Pribadi


0 Comments