Alarm pagi berbunyi. 5 menit berselang, kau datang ke meja makan. Dua gelas susu hangat dan empat lembar roti isi telah tersaji. Itu untuk kita.

***

Semalam kita tidur seperti biasa. Namun posisi kita saling bertolak. Bantal guling jadi pemisah kita. Seolah kita berada di teritorial yang berbeda. Aku coba memelukmu. Kau hempas tanganku. Aku tertidur sekitar pukul 4.

Pagi ini kubuat beberapa sajian untuk sarapan. Kau menatapku tajam dengan tangan terlipat di meja. Aku mencoba tersenyum. Kamu tetap dalam posisi yang sama. Senyum kubuang. Kulempar pandanganku pada cicak yang sedang berkejaran. Cicak itu sungguh menarik. Kau tetap dalam posisi yang sama. Aku bersiul-siul. Namun kau diam. Aku mulai menggerakan mulut. Kau tak perduli.

Susu mulai mendingin. Aku bertanya. Kau tak perduli dan mengambil roti. Aku bertanya lagi. Kau habisi dua lembar roti. Kutatap wajahmu. Kamu meminun susu. Kucoba genggam tanganmu. Kau beranjak. Kembali ke tempat tidur. Aku diam. Kau mengunci pintu. Aku ketuk pintunya. Kau tak perduli. Aku meminta maaf. Kau membuka pintu. Aku bergegas menyambutmu. Lalu kau tunjukan beberapa foto. Aku kaget. Kau sebut perempuan di foto itu jalang. "Oh ternyata kau cemburu". Aku tertawa kecil. Kau mengunci kamar. Membanting pintu.

0 Comments