Skip to main content

lelaki pemalu



Sebuah lagu berjudul lelaki pemalu dari Efek Rumah Kaca (ERK) mengalun ditelinga dari sepasang headset berwarna hitam. Lagu ini membuat mataku terpejam sejenak sambil terbaring diatas karpet berwarna cokelat. Entah kenapa aku seperti memasuki diriku. Bahkan lebih dalam.

Sekitar pukul 04.40, seorang muazin berteriak dari sebuah langgar dengan suara agak serak. Mulutku masih belum menguap meski kepala bagian belakang terasa ditekan. Rupanya Aku pun teringat padamu di hari yang gelap ini. Lirik lagu lelaki pemalu pun terngiang di otakku.

Nanti malam kan ia jerat rembulan; disimpan dalam sunyi hingga esok hari; lelah berpura-pura, bersandiwara, esok pagi kan seperti hari in; menyisakan duri , menyisakan perih, menyisakan sunyi.

Matahari dan rembulan seolah hanya bertukar tempat, tanpa aku melakukan sesuatu. Penyesalan seolah-olah tumbuh besar tiap hari berganti. Rasa itu semakin menekan dan menyesakan. Menurutku, menentukan waktu yang pas dengan ragu-ragu hanya beda tipis. Dan kali ini aku ragu. Setiap kali kesempatan menyambangiku, aku sering menghindar. sebab kupikir kesempatan itu hanya kebetulan, tidak benar-benar untukku.

Berharap gadis mengerti hatinya; tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu.
Ada harapan agar kamu paham—mengutip judul lagu dari warkop—sebuah nyanyian kode. Setelah kutelusuri ulang apa yang telah kunyanyikan, memang suaraku biasa saja sehingga tak mengusik perhatianmu dan membuatmu menengok ke arahku. Meski untuk satu detik. Padahal jika kamu menengok, kenangan satu detik itu akan tersimpan rapih di otakku. Kuletakkan di tempat yang paling spesial. Agar aku tak perlu kehilangan bila ingin membuka ingatan tentang parasmu.

Aku adalah orang yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Tentunya mencari tahu tentang kamu. Hampir setiap aku masuk ke dunia maya, tak lupa aku sempatkan diri tuk melihat berandamu. Aku selalu berharap kamu sedang bermain di beranda agar hariku saat itu menjadi cerah karena melihatmu. Jika kamu sedang bermain, aku hanya berani melihat dari kejauhan tanpa mendekati pagar rumahmu. Tapi jika tidak, setidaknya terdapat sesuatu yang berbekas diberandamu. Agak aku tahu aktivitasmu di hari itu.

Suatu hari, kamu pernah meningalkan sebuah kamera di beranda. Sesegera mungkin aku otak-atik kamera itu. Mungkin aku lancang karena menembus gerbang rumahmu yang tak terkunci. Aku ingin memastikan bahwa di kamera itu tak ada gambar seorang laki-laki. Meski Sesekali aku dikagetkan dengan adanya sesosok laki-laki di gambar digital itu. Tapi, mau dikata apa, aku tak bisa melarangmu. Aku bukan polisi yang bisa menghukum. Aku juga bukan anggota DPR yang mambuat aturan. Aku pun bukan seorang pemimpin yang punya hak prerogatif.

Senja akan segera berlalu; seorang lelaki melintas menyimpan malu; menyusul langkah sang gadis yang mungil; tapak kakinya yang lelah menyisakan perih.
Pernah di saat matahari yang lelah mulai menghilang dari balik gedung-gedung. Guratan merah horizontal menghiasi langit, kamu meninggalkan sebuah pemutar musik di berandamu. Sekali lagi, aku lancang memasuki berandamu tanpa izin. Aku ingin mengetahui lagu apa yang kamu dengar hari itu. Sebab aku percaya, lagu yang ada di sana merefleksikan apa yang sedang kamu rasakan.

Pernah aku temui sebuah lagu tentang jatuh cinta. Terkadang aku terlalu percaya diri bahwa lagu itu untukku. bibirku pun tersenyum dengan sendirinya. Meski jika ditinjau dari logika, kemungkinan lagu itu untukku adalah 10 persen. Tak apa. Itu membuatku senang.
Tapi aku adalah seorang lelaki yang hanya berani melihatmu dari kejauhan atau dari suatu tempat dimana kau tak bisa melihatku. Sebab saat ini aku adalah lelaki pemalu yang sedang mengikuti jejakmu. Sedang memperhatikan gesturmu. Sedang mengamati senyummu. Itu yang bisa kulakukan saat ini.

Ruang tengah, lantai dua
02.30
19/02/2014

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…