Skip to main content

Penyair Idol


(1)
Hari ini aku sedang resah
menunggu giliran tampil membaca sajak.
Teman pesaingku pentas silih berganti
lalu membawa hasil komentar tak serupa




(2)
Aku semakin gugup ketika akan membaca sajak tentang risau.
Di hadapan para penyair kakap.
Di depan juri (Rendra dan Chairil Anwar).

(3)
Semakin waktu mendekat, tanganku bergetar serta merta,
suaraku mendengung, tak lagi bulat.
Kupandangi sekeliling,
ternyata banyak kamera mengintai.
Aku tersadar bahwa aku akan ditatap pemirsa

(4)
Aku gelisah karna butuh tampil indah
agar permirsa mendukungku lewat pesan singkat
agar aku bisa menjadi terkenal
agar aku bisa menjadi idola.
Ah, tapi ya sudahlah, ini aku adanya.

(5)
Sekarang pembawa acara menyebut namaku.
Aku terbangun dari dudukku.
Ternyata demam merasuk
tapi kucoba bergaya santai
Dan memulai
“Risau,” ujarku.

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#4 Kisah Sedih di Hari Senin

Jujur saja, gue nggak tahu apakah harus sedih atau bahagia saat seorang kawan, Rifki, mengirim undangan pernikahan melalui pesan WhatsApp. Satu sisi, gue sangat bahagia karena pada akhirnya, dia berani mengambil keputusan sulit untuk mempersunting perempuan yang ia kasihi. Terlebih, jika ditarik kebelakang, banyak hubungan toxic dan nggak jelas yang ia alami hingga gue seringkali menggelengkan kepala atas tingkahnya. Hubungan yang bertepuk sebelah tangan, dijadikan ojek hampir setiap hari, dapet cewek dengan nilai mahar tinggi sampai dipermainkan oleh perempuan yang ia sukai. Ini juga salah satu bentuk saran gue ke dia untuk mempersuntingnya. Gue juga yang memberi saran untuk memutuskan hubungan dengan perempuan-perempuan terdahulunya karena melihat tingkah lakunya yang tidak jelas. Tapi di sisi lain, gue agak sedih karena salah satu teman seperadventuran gue, nantinya akan sulit untuk diajak melancong. "Santai aja," katanya saat gue bilang kalau nantinya dia bakal susah dia…