Skip to main content

Sepak Bola Dalam Bunyi Radio

“Pemain bernomor punggung 7 membawa bola. Mengotak-atik sejanak, melewati pemain belakang Indonesia, mengoper dengan kaki kanan dan disundul saja, ohw, ternyata bola yang berwarna hitam putih itu ditangkap oleh kiper Indonesia yang berkepala plontos itu.”

Apakah anda pernah mendengarkan pertandingan sepak bola di radio? Bila tidak, lebih kurang seperti di ataslah gambarannya. Sebab saya baru saja mengalaminya pada jum’at malam (2/9) sekitar pukul sepuluh saat pertandingan timnas Indonesia melawan Iran.

Saat tak bisa menonton pertandingan Indonesia ditelevisi karena sedang dalam perjalanan pulang, akhirnya saya mendengarkan radio untuk mengikuti pertandingan itu. itu merupakan alternatif untuk mengetahui pertandingan itu. dan itu menjadi pilahan saya setelah mencari beberapa saluran.

Walau tidak bisa melihat keadaan lapangan seutuhnya, kita bisa mengetahuinya dari suara yang keluar dari komentator itu. karena komentator itu berusaha menjelaskaan bagaimana keadaan lapangan, mendiskripsikan penampilan pemain, menggambarkan bentuk permainan sampai pada letak dan posisi bola. Meski tak sejelas-jelasnya dan sempat melakukan kesalahan, setidaknya kita bisa mengetahui meski tak bisa melihat seperti apa aslinya.

Meski begitu, mendengarkannya di radio tidak kalah mendebarkan tertimbang menyaksikan langsung ditelevisi. Mungkin karena komentator sepak bola itu menggunakan intonasi yang bagus sehingga kita bisa merasakan saat-saat tim kesayangan kita diserang atau menyerang.

Saat bola berada di tengah lapangan suara komentator itu seperti bicara biasa, menggunakan intonas yang datar. Saat bola ditengah lapangan pula komentator itu biasanya menjelaskan atau mungkin memberi komentar mengenai pertandingan ini. Namun ketika salah satu tim mulai menyerang, komentator itu mulai mempercepat intonasi suaranya dan semakin cepat lagi ketika ada sekelumit di daerah pinalti.

Dan ketika berada dikotak pinalti, biasannya, klimaks dari serangan itu adalah suara seperti “apa yang terjadi” atau “dan” yang membuat hati ini berdebar. Menunggu apakah tim kesayangan yang kita bela kebobolan atau tidak, dan tim yang kita dukung mencebol gawang lawan atau serangannya kandas.

Setelah itu antiklimasknya terjadi pada saat kata seperti “ohhh”, “sayang sekali”, “gagal ternyata”, ataupun “gooollll” yang menuntaskan perasaan penasaran atas apa yang terjadi dalam pertandingan sepak bola itu. mungkin kata seperti itu merupakan kata-kata yang kita tunggu ataupun kata yang tak pernah kita harapkan.

Itulah bagaimana intonasi suara bisa mengakibatkan berbagai macam rasa bagi pendengarnya. Tentu saja kata “ohh” atau “sayang sekali” yang sangat kita harapkan saat tim kesayangan kita, Indonesia diserang pemain lawan. Dan kata “Gollllll” yang paling ditunggu ketika tim yang kita cintai dalam keadaan menyerang.

Sungguhpun komentator sepak bola di radio begitu berguna bagi saya waktu itu karna saya tak bisa menyaksikannya secara langsung di televisi. Meski begitu, hal Itu membuat perasaan saya dikocok-kocok karena suaranya itu walau tak merdu. Ditambah lagi kelakuan paman saya yang mengemudikan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi di jalan yang tak ada pembatasnya. Itu membuat perasaan saya semakin terkocok dan berdebar, meski saya tahu dia ingin menyaksikan timnas Indonesia yang permainannya semakin membaik.

Meski pada akhirnya Indonesia kalah telak melawan iran dengan kedudukan akhir 3-0 untuk kemenangan Iran. Itu tak membuat saya membenci Indonesia, ya jelas saja karena Indonesia merupakan negara tempat saya dilahirkan oleh orang tua saya, mempunyai adik serta banyak saudara dan teman. Terlebih bertemu beberapa wanita yang sekarang sudah menajdi mantan pacar saya. haha

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#4 Kisah Sedih di Hari Senin

Jujur saja, gue nggak tahu apakah harus sedih atau bahagia saat seorang kawan, Rifki, mengirim undangan pernikahan melalui pesan WhatsApp. Satu sisi, gue sangat bahagia karena pada akhirnya, dia berani mengambil keputusan sulit untuk mempersunting perempuan yang ia kasihi. Terlebih, jika ditarik kebelakang, banyak hubungan toxic dan nggak jelas yang ia alami hingga gue seringkali menggelengkan kepala atas tingkahnya. Hubungan yang bertepuk sebelah tangan, dijadikan ojek hampir setiap hari, dapet cewek dengan nilai mahar tinggi sampai dipermainkan oleh perempuan yang ia sukai. Ini juga salah satu bentuk saran gue ke dia untuk mempersuntingnya. Gue juga yang memberi saran untuk memutuskan hubungan dengan perempuan-perempuan terdahulunya karena melihat tingkah lakunya yang tidak jelas. Tapi di sisi lain, gue agak sedih karena salah satu teman seperadventuran gue, nantinya akan sulit untuk diajak melancong. "Santai aja," katanya saat gue bilang kalau nantinya dia bakal susah dia…