Skip to main content

Siluman Menjelma Menjadi Sinetron

oleh Muhammad Umar
Hari senin, 15 Agustus 2011, sekitar pukul sembilan pagi WIB. Terdapat suatu acara sinetron di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam film itu digambarkan seorang cowo jagoan yang ingin mengembalikan tali persahabatannya dengan seorang cewe, dimana si cowo itu akan melakukan apa saja agar si cewe mau menerimanya lagi menjadi sahabatnya.

Latar belakang film ini adalah sebuah sekolah SMA mewah, dimana si tokoh utamanya mengandarai harley davidson sebagai alat tranportasi. Tak lupa ajakan clubing seperti sudah lazim disebut dalam sinetron itu oleh remaja yang KTPnya saja masih dibuatkan, belum mengurus sendiri. Terlebih uang yang berwarna biru seperti uang ribuan yang dengan mudah dibuang-buang dari kantongnya.

Tayangan ini seperti siluman yang bisa merasuk ke tubuh para remaja atau anak-anak yang menontonya. Hingga terbentuk suatu pola pikir yang mempengaruhi mereka dalam bertingkah laku. Pola pikir dimana untuk dianggap “keren” dia harus berpola hidup mewah, Pola hidup yang biasa tinggal di negara kapitalis dan mulai mewabah ke indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam sinetron ini.

Bila ditinjau dengan konteks kekinian, menjadi wajar bila banyak para remaja yang rela menghabiskan uangnya untuk berpola hidup mewah. Pola hidup yang kurang cocok bila diterapkan di negara yang masih terdapat rumah dipinggir kali. Bila orang tua dari para remaja itu adalah seorang yang berkecukupan itu akan menjadi lumrah, namun dengan status sosial masayarakat yang masih terseok-seok untuk memenuhi biaya pendidikan, bagaimana?

Budaya ini mulai merasuk ke pemuda-pemudi indonesia, dan bisa dikatakan salah satu faktornya adalah sebuah tontonan itu sendiri. Yang perlu dipertanyakan apakah motif dar si pembuat film itu sendiri, dan para manusia yang terlibat dalam produksinya. Bila bemotif ekonomi, haruskah mengorbankan pemuda-pemudi indonesia.

jika diamati, masih sangat banyak tayangan yang mendidik, dan biasanya tontonan yang disuguhkan oleh mereka adalah tontonan yang mempunyai rating tinggi dan berkualitas tinggi. Namun tak mengurangi minat masyarakat untuk melahap tontonan itu.

Mestinya tayangan yang mempunyai rating baik juga jangan menjadi berlebihan. Jangan karena “aji mumpung” mereka manambah eposide begitu saja. Terkadang penambahan yang seperti itu akan membuat para penontonya jengah karena jalan ceritanya tak lagi bagus. Serta pesan-pesan yang disampaikan menjadi tidak bisa dicerna oleh penontonya.

Meski begitu, mesti ada kontrol dari para remaja tersebut. Mereka mesti bisa mennyeleksi tontonan-tontonan yang baik dan yang buruk. Selain itu juga masih banyak tontonan yang lebih baik tertimbang sinetron yang menyuguhkan mimpi-mimpi patah hati yang diselimuti kemewahan membunuh.

Untuk para produsen sinetron, semestinya mereka membuat suatu film yang secara langsung atau tak langsung berguna dan mendidik, karena para remaja dan anak-anak sedang dalam masa pendidikan dan mudah terpengaruh. Jadi bila sudah sedari kecil seperti itu bagaimana dimasa depannya. Jangan hanya membuat film yang menjual mimpi indah tanpa memberikan pendidikan untuk mencapainya. Sesuai takaran bukankah lebih baik daripada berlebihan atau kurang.

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…