Skip to main content

Ciuman

Pada suatu malam, di sebuah mall, tepatnya dibilangan Alam Sutra, Tangerang. Saya melihat seorang muda-mudi sedang asyik bercengkrama. Mereka besenang-senang disebuah kafe yang menyajikan masakan tradisional daerah tertentu. Suasana kafe itu sepi, (saya hanya melihat mereka berdua di kafe itu) jarang orang berlalu lalang disana, hanya sesekali karyawan mall itu melintas. Ditambah malam yang sudah semakin larut membuatnya semakin sunyi.

Muda-mudi itu terlihat menikmati suasana, mereka tertawa riang, mendengarkan musik bersama menggunakan headset, berfoto dan bercanda ria. Bila dilihat menurut subjektif saya, penampilan mereka dan keadaan fisik mereka terlihat menarik. Mereka terlihat sepasang kekasih, meski saya tak tahu yang sebenarnya.

Ketika saya menengok sejenak dari samping kafe tersebut, tak sengaja melihat si perempuan itu memegang pipi si laki-laki sambil duduk di sofa kafe itu. Setelah itu si perempuan mencium bibir si laki-laki tersebut, namun tak lama durasinya. Setelah itu mereka bersikap seperti biasa saja dan tak perduli sekitar.

Saat saya melihat kejadian itu, tak ada sesuatu yang berbeda, biasa saja. Namun ketika saya terbengong sejenak, saya merasa ada suatu keadaan yang berubah. Mungkinkah budaya? Anak sekecil mereka (saya tak tahu apakah tubuh mereka yang kecil namun sudah berumur atau memang mereka masih belum punya KTP) sudah berani melakukan hal tersebut di tempat umum.

Mungkin sudah biasa bila remaja seusia mereka melakukan hal itu di kota ini (pandangan subjektif saya). Namun bila dilakukan di tempat seumum itu, di tempat yang semua orang bias melihatnya, bahkan balita sekali pun. Saya pikir tidak biasa dan itu yang sangat menjadi perhatian bagi saya terutama tempat mereka melakukannya. Sepasang suami-istri pun jarang terlihat berciuman di tempat umum seperti itu.

Apakah ada suatu transformasi budaya? Bukankah hal seperti itu merupakan hal yang pribadi dan intim untuk dilakukan di Negara timur seperti Indonesia. Apakah mereka sudah benar-benar terpengaruh budaya Negara barat? Tapi setahu saya di beberapa Negara barat pun dilarang melakukannya di tempat umum.

Terlebih mereka merasa biasa saja, seperti hal itu sudah umum, dan tak perlu diperbincangkan. Atau mungkin karena terlalu terbakar gelora asmara sehingga mereka tak memperdulikan keadaan sekitar. Se”buta” itukah asmara semasa muda? Mungkinkah karena jiwa muda, jiwa yang mengidam-idamkan kebabasan sehingga mereka bersikap bebas tanpa tahu keadaan.

Walau begitu, mereka merupakan salah satu pelajaran bagi saya. Mungkinkah mereka manifestasi keadaan remaja di kota ini, atau di negara ini? Saya tak tahu bagaimana keadaannya sesungguhnya. Saya harap tidak.

Setelah dirasa upacara bercumbu dan dinnernya cukup, muda-mudi itu pun bergegas pergi dengan santai. Dan saya masih duduk di tempat itu dan belum berniat beranjak sambil menikmati sebuah kopi bersama teman-teman saya.

Comments

Popular posts from this blog

Jean-Baptiste Say, Pengembang Model klasik Smith

Setelah kelahiran pencetus kapitalis-Adam Smith- dengan karyanya An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations. Ada beberapa ekonom klasik yang mengembangkan model yang telah dibuat oleh Adan Smith, sebuat saja Jean-Baptiste Say. Terkadang ekonom prancis ini sering disebut sebagai Adam Smithnya prancis. Awalnya JB Say adalah Tribunat -Seorang perwira Romawi kuno dipilih untuk melindungi hak-hak mereka dari tindakan sewenang-wenang dari para hakim bangsawan- Napoleon. Akan tetapi Napoleon adalah diktator yang haus kekuasaan yang menentang kebijakan Say dan mengeluarkannya dari tribunat setelah terbit karyanya yang berjudul Treatise on political economi. Napoleon bahkan melarang penyebaran buku Say karena dalam buku itu Say mengecam kebijakan Napoleon. Ada beberapa sumbangan penting dari yang diberikan JB Say yang juga pendukung Smith tentang kebebasan alamiah, persaingan ekonomi dan pembatasan campur tangan pemerintah. Bahkan analisis Say lebih mendalam tertimbang Smith…

Hijaunya Rumput di Rumah Sebelah

Tak bisa kumungkiri, mengkomparasi merupakan aktifitas pelik untuk dijalani. Memang, beberapa poin dapat diperbandingkan,  namun, selalu ada pengecualian. Apakah sesuatu sengaja diciptakan dengan padanan?

Diberkatilah orang-orang yang pandai membandingkan. Diberkatilah orang-orang yang cerdas mengambil keputusan. Diberkatilah orang-orang yang punya pilihan.
Begitu pula saat membandingkan rumput rumah sebelah. Rasa-rasanya selalu saja ada yang membuatnya tampak lebih indah. Matahari, tekstur tanah, bahkan sampai variannya. Padahal kita tahu bahwa rumput juga bisa enyah. Busuk karena menua.
Cukup ajaib memang rumput rumah sebelah. Tak pernah berantakan susunannya meski dikoyak cuaca atau digerogoti hama. "Apakah itu rumput replika?" Ah, tak baik berburuk sangka. Hanya membuat bercak dihati pemiliknya.
Dipikir-pikir, ada baiknya tak menanam rumput. Kita tak perlu mengakomparasi. Tetangga sebelah pun tak perlu menghabiskan waktu memperdebatkan rumput yang kita miliki. Tapi itu t…

#2 Kehilangan Kesenangan Bermain Games

Games yang lagi gue mainin akhir-akhir ini dan sampai sekarang adalah free fire. Gue nggak tahu mau main games apa lagi. Rasa-rasanya games sudah kurang menyenangkan. Entah kenapa. Padahal, dua atau tiga tahun lalu, rasa-rasanya hampir setiap hari gue mainin games ini.Bahkan sampai gue belain curi-curi waktu di sela kesibukan. Karena sebegitu bikin nagihanya, gue pun pada waktu itu sudah sampai pada peringkat pertama diantara kawan-kawan gue yang lain. Peringkat ini gue dapetin karena terlalu sering intensitas gue untuk bermain. Tapi itu dulu. Sekarang beda. Selain free fire, gue juga main PUBG dan Call of Duty. Gue pun sempat tergila-gila akan permainan ini. Tapi sebentar saja untuk kedua games ini. Entah kenapa, 2 tahun belakangan ini gue mudah bosan. Padahal, kalau boleh dibilang, gue tipe setia sama games. Misalnya, Clash of Clan (COC). Jika tidak salah ingat, mungkin 3 tahun atau lebih gue bermain COC. Gue mulai bermain COC karena pada saat itu games ini sedang hits. Namun, sampa…